PRAKATA
Puja
dan puji syukur atas kehadiran Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga saya bisa menyelesaikan tugas mata kuliah penulisan karya
ilmiah yaitu makalah yang berjudul profesi pendidikan.
Serta dosen pengampu mata kuliah penulisan
karya ilmiah yang telah memberikan bimbingannya dalam pembuatan makalah ini.
Makalah
ini disusun dan diperuntukan bagi mahasiswa fakultas keguruan dan ilmu
pendidikan sehingga mahasiswa tersebut dapat memahami makna dari profesional
guru yang sebenarnya. Dan juga nantinya mereka dapat merealisasikan dalam karir
mereka sebagai guru ketika mereka telah menyelesaikan pendidikannya.
Penulis menyadari bahwa dalam menyusun karya tulis ini masih jauh dari
kesempurnaan, untuk itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun guna sempurnanya makalah ini. Penulis berharap semoga karya
tulis ini bisa bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya.
Tegal,
24 Juni 2014
Penulis
DAFTAR
ISI
PRAKAT.............................................................................................................. i
DAFTAR
ISI ...................................................................................................... ii
BAB
I PENDAHULUAN................................................................................... iii
I.1 Latar belakang....................................................................................... iii
I.
2 Tujuan ................................................................................................... iii
BAB
II PEMBAHASAN .................................................................................... 1
2.1
Profesi kependidikan ............................................................................ 1
2.2
Guru sebagai agen pembelajaran ........................................................... 1
a.
Guru sebagai fasilitator ............................................................ 2
b.
Guru sebagai motivator ............................................................ 3
c.
Guru sebagai pemacu ............................................................... 3
d.
Guru sebagai pemberi inspirasi ................................................ 3
2.3
Peran guru dalam masyarakat ............................................................... 4
2.4
guru sebagai agen perubahan sosial ...................................................... 5
BAB
III PENUTUP ............................................................................................ 7
DAFTAR
PUSTAKA .......................................................................................... 8
PENDAHULUAN
Latar belakang
Era globalisasi menuntut semua pihak
dalam berbagai bidang dan sektor pembangunan untuk senantiasa meningkatkan
kompetisinya. Hal tersebut mendukung pentingnya upaya peningkatan kualitas
pendidikan sebagai sarana untuk menciptakan sumber daya manusia yang
berkualitas. Kualitas pendidikan dipengaruhi oleh beberapa komponen antara lain
nfaktor guru, siswa, kurikulum, sarana dan prasarana yang tersedia, serta
kebijakan pemerintah baik di pusat maupun daerah.
Guru merupakan komponen yang paling
menentukan dalam sistem pendidikan secara keseluruhan. Pada hakikatnya,
penyelenggaraan dan keberhasilan proses pendidikan pada semua jenjang dan
satuan pendidikan ditentukan oleh guru. Kualitas guru yang rendah akan
berdampak pada rendahnya mutu pendidikan. Oleh karena itu upaya perbaikan
apapun yang dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan akan memberikan
sumbangan yang signifikan tanpa dukungan oleh guru yang profesional dan
berkualitas. Derngan kata lain perbaikan kualitas pendidikan harus berpangkal
dari guru dan berujung pada guru pula.
Tujuan
Makalah
ini dibuat dengan tujuan agar mahasiswa fakultas keguruan dan ilmu pendidikan
dapat memahami dan mampu merealisasikan arti dari profesi guru sesuai dengan
aturan perguruan dalam undang undang.
BAB II
PEMBAHASAN
Profesi kependidikan
Apakah
pekerjaan guru (tenaga kependidikan) dapat disebut sebagai suatu profesi?
Pertanyaan ini muncul karena masih ada pihak yang berpendapat bahwa pekerjaan
pendidikan bukan suatu profesi tersendiri. Berbagai alasan yang mereka
kemukakan antara lain, bahwa setiap orang dapat menjadi guru asalkan telah
mengalami jenjang pendidikan tertentu8ditambah dengan sedikit pengalaman
mengajar. Karena itu seorang dapat saja mengajar di TK sampai dengan perguruan
tinggi, jika dia telah mengalami pendidikan tersebut. Selain dari itu, ada
beberapa bukti bahwa pendidikan dapat saja berhasil walaupun si pengajarnya
tidak pernah belajar ilmu pendidikan dan keguruan.
Banyak orang tua seperti pedagang,
petani, dan sebagainya yang telah mendidik anak-anak mereka dan berhasil,
padahal dia sendiri tidak pernah mengikuti pendidikan guru dan mempelajari ilmu
mengajar. Sebaliknya, tidak sedikit guru atau tenaga pendidik lainnya yang tidak berhasil mendidik anaknya.
Jadi, kendati seorang telah mendidik menjadi guru, namun belum menjadi jaminan
bahwa anaknya akan terdidik baik.
Pandangan diatas dinilai terlalu
picik. Profesi guru hendaknyadilihat dalam hubungan yang luas. Sejumlah
rekomendasi dapat dikembangkan sebagai berikut.
1. Peranan
pendidikan harus dilihat dalm konteks pembangunan secara menyuluruh, yang
bertujuan membentuk manusia sesuai dengan cita-cita bangsa.
2. Hasil
pendidikan memang tak mungkin dilihat dan dirasakan dalam waktu singkat, tetapi
baru dapat dilihat dalam jangka waktu yang panjang, bahkan mungkin setelah satu
generasi.
3. Sekolah
adalh suatu lembaga profesional.
4. pekerjaan
guru harus dilakukan oleh orang yang bertugas selaku guru.
5. Setiap
guru harus memiliki kompetensi profesional, kompetensi kepribadian, dan
kompetensi kemasyarakatan.
Guru sebagai agen pembelajaran
Dalam
Standar Nasional Pendidikan (SNP) pasal 28 UU Repoblik Indonesia, dikemukakan
bahwa : “Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai
agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk
mewujudkan tujuan pendidikan nasional.”. selanjutnya dalam penjelasannya
dikemuakakan bahwa : “yang dimaksud dengan pendidik sebagai agen pembelajaran
adalah peran pendidik antara lain sebagai fasilitator, motivator, pemacu, dan
pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik”. Sehubungan dengan itu, dalam bab
ini dibahas hal hal yang berkaitan dengan peran guru sebagai agen
pembelajajaran, bai sebagai fasilitator,
motivator, pemacu,maupun pemberi inspirasi. Meskipun dalam uraian ini peran
guru sebagai agen pembelajaran dibahas secara terpisah pisah, namun dalam
pelaksanaannya peran-peran tersebut saling berhubungan untuk membentuk
kompetensi dan pribadi peserta didik.
A. Guru
sebagai fasilitator
Tugas
guru tidak hanya menyampaikan informasi kepada peserta didik, tetapi harus menjadi
fasilitator yang bertugas memberikan kemudahan belajar (facilitate of learning) kepada seluruh peserta didik, agar mereka
dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan, gembira, penuh semangat, tidak
cemas, dan berani mengemukakan pendapat secara terbuka. Rasa gembira, penuh
semangat, tidak cemas, dan berani mengemukakan pendapat secara terbuka merupakan
modal dasar bagi pesrta didk untuk tumbuh dan berkembang menjadi manusia yang
siap beradaptasi, menghadapi berbagai kemungkinan, dan memasuki era globalisasi
yang penuh berbagai tantangan.
Guru
sebagai fasilitatort sedikitnya hjarus memiliki 7 sikap seperti yang
didefinisikan Rogers (dalam knowles,1984) berikut ini.
1. Tidak
berlebihan mempertahankan pendapat dan keyakinannya, atau kurang terbuka.
2. Dapat
lebih mendengarkan peserta didik, terutama tentang aspirasi dan perasaannya.
3. Mau
dan mampu menerima ide peserta didik yang inovatif, dan kreatif, bahkan yang
sulit sekalipun.
4. Lebih
meningkatkanb perhatiannya terhadap hubungan dengan peserta didik seperti
halnya terhadap bahan pembelajarannya.
5. Dapat
menerima balikan (feedback), baik
yang sifatnya positif maupun negatif, dan menerimanya sebagai pandangan yang
konstruktur terhadap diri dan perilakunya.
6. Toleransi
terhadpa kesalahan yang diperbuat peserta didik selama prosese pembelajaran.
7. Menghargai
prestasi pesrta didik, meskipun biasanya mereka sudah tau prestasi yang
dicapainya.
B. Guru
sebagai motivator
Callahan
and Clark (1988) menemukakan bahwa motivasi adalah tenaga pendorong atau
penarik yang menyebabkan adanya tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu.
Dengan motivasi akan tum,buh dorongan untuk melakukan sesuatu dalam kaitannya
dengan pencapaian tujuan. Motivasi dapat
menyebabkan suatu perubahan yang ada pada diri manusia, baik yang menyangkut
kejiwaan, perasaan, maupun emosi, dan kemudian bertindak atau melakukan sesuatu
untuk mencapai tujuan.
Sebagai motivator, guru harus mampu
membangkitkan motivasi belajar, dengan memperhatikan prinsip-prinsip sebagai
berikut.
·
Peserta didik akan bekerja keras kalau
memiliki minat dan perhatian terhadap pekerjaannya.
·
Memberikan tugas yang jelas dan dapat
dimengerti.
·
Memberikan penghargaan terhadap hasil
kerja dan prestasi peserta didik.
·
Menggunakan hadiah, hukuman secara
efektif dan tepat .
·
Memberikan penilaian dengan adil dan
transparan.
C. Guru
sebagai pemacu
Sebagai
pemacubelajar, guru harus mampu melipatgandakan potensi peserta didik, dan
mengembangkannya sesuai dengan aspirasi dan cita cita mereka di masa yang akan
datang.
Hal
ini penting, karena guru memiliki andil yang sangat besar terhadap keberhasilan
pembelajaran di sekolah, guru sangat berperan dalam membantu perkembangan
peserta didik untuk mewujudkan tujuan hidupnyasecara optimal. Keyakinan inin
muncul karena manusia adalah makhluk lemah, yang dalm perkembangannya
senantiasan membutuhkan orang lain, sejak lahir, bahkan pada saat meninggal.
Semua itu menunjukkan bahwa setiap orang membutuhkan orang lain dalam
perkembangannya.
D. Guru
sebagai pemberi inspirasi
Sebagai
pemberi inspirasi belajar, guru harus mampu memerankan diri dan memberikan
inspirasi bagi peserta didik, sehingga kegiatan belajar dan pembelajaran dapat
membangkitkan berbagai pemikiran, gagasan, dan ide-ide baru. Untuk kepentingan
tersebut, guru harus mampumenciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman dan
tertib, optimisme dan harapan tinggi dari seluruh warga sekolah, kesehatan
sekolah, serta kegiatan-kegiatan yang berpusat pada peserta didik (student centered activities), agar dapat
memberikan inspirasi, membangkitkan nafsu, gairah dan semangat belajar. Seperti
dikemukakan oleh Soedomo (1989: 143), “bahwa semakin menyenangkan tatanan
lingkungan fisik, akan memberikan dampak positif bagi proses belajar”. Para pakar psikologis aliran ekologik telah
mendapatkan temuan-temuan penelitian bahwa tata warna secara langsung mempengaruhi
suasana jiwa, warna-warna cerah cenderung menyiratkan keceriaan dan suasana
jiwa yang optimistik, sedangkan penggunaan warna-warna suram akan memberikan
pengaruh yang sebaliknya.
Peran guru di masyarakat
Guru
merupakan kunci penting dalam kegiatan hubungan sekolah dengan masyarakat. Oleh
karena itu ia harus memiliki kompetensi untuk melakukan beberapa hal sebagai
berikut:
1. Membantu
sekolah dalam melaksanakan teknik – teknik Husemas.
2. Apa
yang dilakukan atau tidak dilakukan guru menjadi panutan masyarakat.
3. Dalam
melaksanakan semua itu guru harus melaksanakan kode etiknya.
Adapun
peran guru di masyarakat dalam kaitannya dengan kompetensi sosial dapat di
uraikan sebagai berikut.
1. Guru
sebagai Petugas Kemasyarakatan
Guru
bertugas membina masyarakat agar masyarakat berpartisipasi dalam pembangunan.
Untuk melaksanakan tugas itu, seorang guru tidak cukup digantungkan kepada
bakat, kecerdasan, kecakapan saja tetapi juga harus bertikad baik sehingga hal
ini menyatu dengan norma yang dijadikan landasan dalam melaksanakan tugasnya.
2. Guru
di mata masyarakat
Dalam
pandangan masyarakat, guru tidak lagi dipandang sebagai pengajar dikelas,
tetapi dirinya diharapkan pula tampil sebagai pendidik bukan saja terhadap
peserta didiknya namun juga sebagai pendidik dimasyarakat yang seyogyanya
memberikan teladan yang baik kepada masyarakat.
3. Tanggung
jawab sosial guru
Peranan
guru di sekolah tidak lagi terbatas untuk memberikan pembelajaran, tetapi harus
memikul tanggung jawab yang lebijh banyak, yaitu bekerja sama dengan pengelola
pendidikan lainnya didalam lingkungan masyarakat. Untuk itu guru harus
mempunyai kesempatan lebih banyak melibatkan diri dalam kegiatan diluar
sekolah.
Guru
sebagai agen perubahan sosial
UNESCO mengungkapkan
bahwa guru adalah agen perubahan yang mampu mendorong terhadap pemahaman dan
toleransi, dan tidak sekedar hanya mencerdaskan peserta didiktetapi mampu
mengembangkan kepribadian yang utuh, berakhlak, dan berkarakter.
Unsur yang hebat dari
manusia adalah kemampuannya untuk belajar dari pengalaman orang lain. Kita
menyadari bahwa manusia normal dapat menerim,a pendidikan, dengan memiliki
kesempatan yang cukup, ia dapat mengambil bagian dari pengalaman yang yang
terbaik dalam suatu kepribadian yang unik dalam jangka waktu tertentu. Manusia
dapat mewujudkan pengalam pribadinya, melainkan dapat mewujudkan pengalaman
dari semua waktu waktu dari setiap kebudayaan.
Prinsip modernisasi tidak
hanya diwujudkan dalam bentuk buku buku sebagai alat utama pendidikan,
melainkan dalam semua rekaman pengalaman manusia. Tugas guru adalah
menterjemahkan kebijakan pengalaman yang berharga ini kedalam istilah atau
bahasa yang modern yang akan diberikan kepada peserta didik.
1. Kecerdasan
sosial perlu dikembangkan di sekolah
Pribadi yang memiliki kecerdasan sosial ditandai dengan
adanya hubungan kuat dengan Allah SWT, memberi manfaat kepada lingkungan, dan
menghasilkan karya untuk membantu orang lain.
Sosial inteligensi membentuk manusia yang setia pada
kebersamaan. Dalam tingkatan nasional sosial inteligensi membimbing para
pemimpin untuk selalu peka terhadap kesulitan rakyatnya dengan menggunakan kesejahteraan
seluruh lapisan masyarakat. Orang – orang lemah memiliki keterbatasan dalam
akses dan sumber daya sehingga harus prioritaskan penanganannya oleh para
pemimpin negara.
Sumber
kecerdasan adalah intelektual sebagai pengolah pengetahuan antara hati dan akal
manusia. Dari akal muncul kecerdasan intelektual dan kecerdasan bertindak yang
memandu kecerdasan bicara dan kerja. Sedangkan dari hati muncul kecerdasan
spiritual, emosional, dan sosial.
2. Cara
mengembangkan kecerdasan sosial
Cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan kecerdasan
sosial di lingkungan sekolah antara lain diskusi, hadap masalah, bermain peran,
kunjungan langsung kemasyarakat dan lingkungan sekolah yang beragam. Jika
kegiatan tersebut dilakukan secara efektif maka akan mengembangkan kecerdasan
sosial sehingga seseorang dapat berperan aktif dan peduli terhadap lingkungan
dan masyarakat.
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Tenaga profesional guru tidak hanya
diartikan pada orang-orang yang mampu mengajarkan atau mendidik sesorang, namun
dalam arti luas, seorang yang berprofesi guru adalah orang-orang yang memiliki
kemampuan-kemampuan tertentu, antara lain.
1. Mampu
menjadi seorang fasilitator, yaitu mampu memberikan kemudahan belajar (facilitate of learning) kepada seluruh
peserta didik, agar mereka dapat belajar dalam suasana yang menyenangkan,
gembira, penuh semangat, tidak cemas, dan berani mengemukakan pendapat secara
terbuka.
2. Mampu
menjadi seorang motivator, pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya
tingkah laku ke arah suatu tujuan tertentu.
3. Mampu
menjadi pemacu, yaitu mampu melipatgandakan potensi peserta didik, dan
mengembangkannya sesuai dengan aspirasi dan cita cita mereka di masa yang akan
datang.
4. Mampu
menjadi pemberi inspirasi belajar, yaitu mampu memerankan diri dan memberikan
inspirasi bagi peserta didik, sehingga kegiatan belajar dan pembelajaran dapat
membangkitkan berbagai pemikiran, gagasan, dan ide-ide baru.
DAFTAR
PUSTAKA
Ø Hamalik
aoemar. 2002. Pendidikan guru berdasarkan
pendekatan kompetensi. Jakarta.
Ø Mulyasa,
E. 2007. Standar kompetensi dan
sertifikasi guru. Bandung.